Showing posts with label usaha. Show all posts
Showing posts with label usaha. Show all posts

Modal Autodidak, Omzetnya Capai Hingga Rp4 Juta


Keberanian memulai usaha dengan modal autodidak, ternyata tidak menghalangi Sahid s Collection Creative Manufacture of Homeware, untuk berkembang dan maju. Bahkan, usaha kerajinan itu, bisa menghasilkan omzet Rp3 juta–Rp4 juta per hari.

Tidak semua orang berani memutuskan menggeluti usaha tanpa memiliki keahlian atau keterampilan di bidang bisnis yang digeluti. Banyak alasan masuk akal untuk itu, misalnya takut dengan risiko gagal yang lebih besar, hingga tidak memiliki keberanian untuk memulainya.

Namun, hal itu terbantahkan dengan keberanian menggeluti usaha kerajinan fiber yang digeluti oleh keluarga Ali Munawar sebagai pemilik dari Sahid s Collection. Walaupun butuh perjuangan untuk memulainya, namun setelah berjalan beberapa tahun, Sahid s Collection berhasil menjadi pusat kerajinan tangan yang menyediakan aneka hiasan rumah terlengkap di Jakarta.

Berbagai jenis hiasan rumah dihasilkan di pusat produksi hiasan rumah tangga ini.Bahkan,untuk seluruh wilayah di Jakarta, Sahid s Collection kini menjadi pemasok (supplier) satu-satunya aneka produk kerajinan yang terbuat dari bahan fiber.

Kisah sukses Sahid s Collection ternyata diawali oleh seorang lakilaki paruh baya bernama Ali Munawar. Bersama adik laki-lakinya bernama Sahid Masrun, berdua mereka memulai usaha aneka kerajinan fiber.

Walaupun tidak memiliki keahlian sama sekali dalam membuat kerajinan berbahan fiber tersebut, tapi usaha itu berhasil dirintis dengan perlahan namun pasti.

Ide awal memulai bisnis kerajinan fiber,ditekuni oleh dua bersaudara ini, setelah mereka menyaksikan pada 1995 dengan banyaknya produk kerajinan fiber berbentuk aneka buah-buahan, seperti apel, anggur, pisang, dan semangka yang diimpor dari China.

Hiasan berbentuk buah-buahan itu ternyata sangat digemari di Indonesia dan banyak ditemukan di rumah tangga Indonesia. Hiasan berbentuk buah-buahan, pada saat itu, banyak menjadi pajangan di meja makan bahkan ruang tamu. Peluang itu terbuka, ketika dua saudara ini memutuskan untuk memulai usaha pada tahun tersebut.

Diawali dengan membeli kerajinan fiber dengan bentuk aneka buah sebagai contoh, hingga akhirnya kakak beradik ini memutuskan untuk membuat sendiri dan menambah jumlah buah-buahan yang ada dan melengkapinya dengan buah-buahan lain khas Indonesia.

“Kami akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri kerajinan fiber itu. Awalnya dengan memperbanyak jenis buah-buahan,” kata pemilik Sahid s Collection Ali Munawar.
Sebelum memutuskan untuk memproduksi sendiri aneka kerajinan fiber, Ali memutuskan untuk mempelajari bagaimana proses membuat kerajinan itu dengan cara autodidak dan sekali-kali melihat proses pembuatan di sentra industri kerajinan fiber.

Setelah ahli, barulah mereka memutuskan untuk membuat sendiri. “Tahun-tahun begitu, kerajinan fiber khususnya yang menggambarkan aneka buah-buahan sangat laris di pasar,” katanya.

Walaupun saat itu, sedang booming kerajinan fiber buahbuahan, namun Ali mengaku tidak mudah baginya untuk memasarkan kerajinan yang telah dihasilkannya. Bahkan karena sulitnya menemukan pasar yang terbuka, Ali memulai memasarkan produknya dengan menjualnya ke sesama penjual kerajinan fiber.

“Awalnya sulit, karena kita sama sekali tidak punya keahlian untuk bisnis kerajinan fiber, apalagi pemasaran,” tandas pria yang memiliki tempat industri kerajinan fiber di Jalan Inerbang, Jakarta Timur tersebut.

Lama kelamaan, kata Ali, produksi kerajinan fiber yang dihasilkan di Sahid s Collection mulai dikenal masyarakat. Bahkan lebih diminati khususnya di areal Jakarta karena kerajinan fiber aneka buah yang mereka hasilkan jauh lebih lengkap dibandingkan produk kerajinan yang sama dari China.

“Kita menjadi semakin laris karena koleksi buah-buahan kita sangat lengkap. Kalau produk China hanya ada apel, anggur saja, kita lengkap, semua jenis buah ada,” katanya.

Berbeda dengan produk impor dari China, di Sahid s Collection kata Ali, buah-buahan khas Indonesia, seperti jagung, pisang, alpukat, wortel bahkan pare dijadikan aneka kerajinan fiber.

“Itu salah satu bentuk inovasi yang kita lakukan, hingga sekarang kita menjadi satu-satunya supplier kerajinan fiber terbesar di Jakarta,” katanya.

Setelah 15 tahun berdiri, Sahid s Collection kini sudah sangat dikenal sebagai pusat kerajinan fiber. Produk kerajinan yang dibuat oleh Sahid s Collection bahkan menjadi kerajinan yang pemasarannya sudah melingkupi seluruh Indonesia. Walaupun sekarang Sahid s Collection tidak memasarkan produk kerajinannya di toko-toko atau gerai kerajinan sendiri.

“Pembeli kita adalah toko-toko souvenir atau toko kerajinan, kita sekarang menjadi pemasok,umumnya mereka datang membeli langsung ke tempat produksi,” papar Ali.
Usaha kerajinan fiber yang digeluti dua bersaudara ini, ternyata akhirnya bisa memberikan kehidupan dan penghasilan yang layak bagi keluarga mereka.

Bahkan dari awalnya, tanpa dibantu karyawan, dengan kemajuan usaha yang dimilikinya, kini Sahid s Collection telah memiliki 24 orang karyawan tetap dan belum terhitung karyawan kontrak. “Selama inovasi dilakukan pasar akan bisa dikuasai,” tandas Ali.
READ MORE - Modal Autodidak, Omzetnya Capai Hingga Rp4 Juta

Berkompetisi Dengan Inspirasi ala Pengrajin Gerabah Bantul

Berkompetisi dengan inspirasi. Mungkin ungkapan tersebut yang tepat bagi para pengrajin gerabah di Desa Wisata Kasongan, Bangunjiwo, Bantul, Yogyakarta.

Untuk bisa 'mencuri' pasar kerajinan yang cukup banyak pemainnya, maka Nita, pengrajin asal Plered pun selalu mengandalkan inspirasinya. Berbekal inspirasinya itu, Nita pun bisa menangguk omzet hingga ratusan juta setiap bulannya.

Nita, mengawali usahanya di Plered setelah pindah ke kawasan ini sejak tahun 1999 silam karena tertarik pasarnya yang bagus dibandingkan kota asalnya tersebut.

"Pasarnya lebih bagus di sini. Di sana (Plered), jarang banyak orang luar (asing). Kalau dibandingkan, di sana bisa untung 20%, kalau di sini bisa 80%," ujar perempuan kelahiran 15 Mei 1971 ini kepada detikFinance akhir pekan lalu di Bantul, Yogyakarta.

Modal awalnya sendiri berasal dari para pembelinya terdahulu. Kemudian, untuk meningkatkan produksi dan keuntungan, dia mulai meminjam kepada bank.

"Tambah order, kita cari dana, awalnya Rp 20 juta, Rp 60 juta, Rp 80 juta, masih ke bank," ujar ibu 3 orang anak ini.

Dari modal tersebut, Nita memperoleh omzet bisa mencapai Rp 100 juta per bulan dengan variasi harga dan jumlah pesanan yang berbeda-beda tiap harinya.

"Kita produksi tergantung pesanan walaupun ada beberapa yang dibuat untuk stok. Kalau ramai seneng, kita buat banyak, tapi kalau lagi sepi,kita kurangi produksinya," jelasnya.

Karyawan yang membantu Nita memproduksi kerajinan dari gerabah ini setiap harinya berjumlah 9 orang. Namun, jika pesanan sedang menumpuk, dirinya dan suami menyewa beberapa karyawan borongan. Uniknya, Nita hanya mempercayakan produksi gerabahnya di tangan para pemuda dari daerah sekitar.

"Kalau banyak ya diperbanyak orangnya, kalau sedikit dikurangi. Tapi harus dari sini karena tidak tahu kenapa mereka punya nilai seni yang baik dibandingkan ngambil orang di luar daerah. Dan setiap orang pegang beberapa model (keahlian) nya sendiri," jelasnya.

Untuk bersaing dengan para pengrajin lain di daerah ini, Nita mengaku harus berpacu dengan inspirasi untuk menciptakan model-model baru agar berbeda dengan yang lain.

"Motif-motifnya jangan sampai sama dengan orang lain. Kita bikin motif baru, baru dipasarkan kepada para tamu. Tapi harus bikin model baru lagi karena di sini pasti cepat ditiru oleh yang lain," ujarnya.

Nita merupakan pengrajin spesialisasi model primitif. Inspirasinya berasal dari cerita-cerita tempo dulu bahkan zaman purbakala.

"Inspirasinya motif primitif, kalau nggak begitu orang nggak senang. Apalagi yang ada ceritanya. Seperti bentuk Budha, kan bisa banyak model, dan itu ide saya dan bapak," tegasnya.

Dengan ide originalnya itu, Nita bisa memasakan kerajinannya di pasar nasional dan internasional. Para pembeli ada yang kontinu memesan kerajinan gerabahnya yang harganya berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 400 ribu.

"Pasar lokal itu di Jakarta, Bali, Surabaya, di Sumatera ada Bengkulu, Jambi, di Kalimantan ada Pontianak, kalau luar, kita ada Jepang, Australia,dan Belanda," jelasnya.

Nita mengatakan bahan baku gerabahnya sendiri berasal dari kawasan ini. Jadi tidak ada kendala sedikit juga mengenai bahan baku. Setelah mendapatkan bahan baku, Nita tinggal bekerja keras untuk menciptakan model yang unik.

Kemudian, dia membuat desainnya lalu membuat cetakannya. Setelah itu, baru diproduksi massal. Gerabah dicetak kemudian dibakar. Tungku pembakaran yang digunakan Nita masih sangat tradisional dan seadanya. Namun, dengan peralatan tersebut Nita bisa memproduksi gerabah yang bernilai seni tinggi dan diakui di dunia internasional.
detik.com
READ MORE - Berkompetisi Dengan Inspirasi ala Pengrajin Gerabah Bantul

Memilah Sampah Menuai Berkah

Keberadaan limbah tak selalu merugikan. Kejelian menangkap potensi dan sedikit sentuhan inovasi bisa menjadikan barang-barang bekas ini bernilai lebih.

Aneka kerajinan berbahan dasar limbah alias barang bekas banyak sekali dijumpai di pasar. Mulai dari eceng gondok, sabut kelapa, plastik minuman kemasan, karton bekas, kertas koran, kaleng bekas, kain perca, hingga modifikasi berbagai bahan dasar tersebut.

Menurut Tyas Nastiti, salah seorang perajin limbah, mengolah bahan bekas menjadi sesuatu yang punya nilai jual memang butuh kejelian.

“Seseorang itu mesti punya taste tentang seni dan menyukai craft. Dengan begitu dia akan kreatif mencari sumber bahan yang murah dan melimpah,” ujar mahasiswi Jurusan Desain Produk ITS yang mengolah barang bekas praktikum menjadi aksesori cantik.
Ia mengawali bisnisnya ini juga dari hobi. “Kalau namanya sudah hobi, inovasi apapun pasti akan digali. Awalnya saya memang suka aksesori, tapi harganya kok mesti mahal. Iseng-iseng mengolah dari sisa bahan praktikum di perkuliahan, seperti potongan kain, tali, pita, karton, plastik, kertas, manik-manik. Jadilah kalung-kalung cantik,” jelas Tyas.

Produk daur ulang yang beredar di pasar Surabaya jumlahnya sudah menjamur, bahkan tak sedikit yang diekspor. Namun, yang namanya kerajinan tangan, usianya rata-rata tidak terlalu lama tergantung bahan dasarnya.

Macam budaya latah, kerajinan dari bahan daur ulang gampang ditiru. Market-nya gampang jenuh. Apabila si pencetus ide tidak sigap berinovasi maka produknya sesegera mungkin ditinggalkan pasar. “Namanya hand made maka harus punya ciri khas yang tentu saja dipatenkan,” ucap lajang kelahiran 14 Desember 1990 ini.

Mengusung label Meralodist (singkatan dari ketiga orang penggagas usaha ini, Amera, Alodia, Nastiti), kalung buatannya ini melanglang hingga ke luar pulau.

“Paling jauh pembeli dari Aceh dan Lombok. Mereka beli 10-15 pieces. Harga per pieces rata-rata Rp 30.000-40.000. Kalau beli lebih dari 10 bebas ongkos kirim,” akunya. Ia mengaku tidak memroduksi terlalu banyak lantaran juga masih fokus studi.
Produksinya dibikin per tema. Urusan desain dipercayakan pada temannya. Per bulan bisa laku 100-150 pieces. Atas keuletannya itu, Tyas berhasil mendapatkan dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Dirjen Dikti sebesar Rp 6,9 juta.

Produksi By Order
Indar Nurtrihansyah, mahasiswa Jurusan Teknik Industri ITS pencetus kerajinan berbahan dasar serabut atau sabut kelapa mengaku, jika Jatim punya sumber bahan daur ulang yang melimpah. Nilai ekonomian produk daur ulang biasanya lebih baik apabila pengolahan dan packaging-nya juga menarik.

“Kita sering lihat sabut kelapa melimpah di pinggir jalan. Melalui seorang kenalan perajin di Malang, sabut itu bisa dipakai untuk craft. Sabut kelapa diproses dengan mesin press atau mesin gerinda, dicacah lalu dikeringkan untuk dijadikan serbuk seperti pasir,” jelas Indar.

Lalu ditempel di atas kertas karton yang telah dibentuk sesuai keinginan. Tempat tissue, box file, jam dinding, tabungan alias celengan, sampul buku suvenir dengan kertas daur ulang, serta kap lampu. Bagian atasnya dihias sesuai selera.

“Saya dan teman-teman yang menggarap usaha ini dapat dana PKM dari Dikti Rp 5 juta untuk pengembangan usaha. Awalnya dana yang kita kumpulkan cuma Rp 1 juta,” imbuh pria kelahiran Semarang 13 Februari 1989 ini.

Usaha yang digarap rame-rame dengan teman jurusannya ini dijamin tak mengganggu kuliah lantaran proses penggarapannya dilakukan saat weekend. “Kalau proses produksinya di Malang, karena bahan baku di sana banyak sekali. Ide, desain dan finishing dilakukan di Surabaya,” kata Indar. Pengembangan ide menggunakan desain animasi dan 3D.

“Berhubung masih sangat awal, kita produksinya by order. Belum punya galeri atau outlet khusus. Pemasarannya lebih aktif melalui website www.cocosnoot.com dan rajin ikut pameran,” ujarnya.
Harga jual per pieces cukup terjangkau, sekitar Rp 30.000. “Tapi kita juga terima order dengan desain sesuai keinginan pembeli. Semakin rumit desainnya tentu harga akan menyesuaikan,” katanya.
Dalam seminggu, ia dan kawan-kawannya bisa memroduksi minimal 20 pieces. “Selain untuk koleksi pribadi, biasanya produk kita dipakai untuk suvenir pernikahan,” ujarnya.

Salah satu penggemar produk daur ulang, Nina Wulandari mengungkapkan, nilai seni produk recycle amat tinggi. “Nggak heran kalau harganya agak mahal dibandingkan produk sejenis tapi bahan dasarnya bukan dari recycle,” kata gadis belia 17 tahun ini.

Kerajinan dari bubur koran, sandal dan tas dari bahan eceng gondok adalah koleksi produk daur ulang yang terpampang di rumahnya. “Yang ngenalin kerajinan daur ulang itu kakak aku,” pungkas Nina. Surya.co.id

READ MORE - Memilah Sampah Menuai Berkah
 
© 2009 free space ads banner | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Framework | Design: Choen